Batik Solo adalah salah satu ikon batik paling berpengaruh di Indonesia, karismanya mengejutkan dunia. Orang lajang membatik secara turun-temurun dan melahirkan ratusan hingga ribuan motif. Perbedaan motif ditelusuri karena motif ini tidak hanya gambar, tetapi juga mengandung makna yang diperoleh dari leluhur yang awalnya menganut animisme, dinamika atau Hindu dan Budha. Ada dua tujuan wisata batik populer di Solo, yaitu Kampung Kauman dan Laweyan. Wisatawan yang datang sendiri, rasanya tidak lengkap jika tidak berhenti di dua tempat dan membeli batik untuk oleh-oleh.

  1. Motif Batik Solo Sidomukti
    Sidomukti berasal dari kata ‘sido’ yang berarti, dan ‘mukti’ yang berarti makmur, makmur, makmur, mulia. Motif ini sering digunakan oleh beberapa pengantin Jawa, terutama solo di lorong, dimaksudkan untuk membuat hidup baru diberkati dengan kebahagiaan, kebahagiaan dan kebahagiaan selamanya. Motif ini menggambarkan harapan untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan, penuh kemakmuran, selalu mengingat Tuhan, hidup dalam kemuliaan.
  2. Motif Batik Solo Truntum
    “Truntum” sering ditafsirkan sebagai panduan. Sebagai permulaan, wanita Jawa, terutama wanita solo yang telah menjadi orang tua, biasanya mengenakan kain batik truntum ini, yang berarti bahwa mereka diharapkan menjadi panduan atau panutan bagi anak-anak mereka. Lebih khusus lagi, dalam proses perkawinan Jawa, khususnya solo, orang tua pengantin wanita biasanya memakai motif ini. Motif truntum ini dibuat oleh Kanjeng Ratu Kencana, kaisar Sunan Paku Buwana III. Untuk memiliki makna cinta itu bisa tumbuh lagi.
  3. Batik Solo motif Sawat
    Motif ini dengan batik sawat berasal dari sayap atau sayap. Sebelumnya, motif ini dianggap suci dan hanya digunakan oleh raja dan keluarganya. Motif ini sering diartikan sebagai rajawali sebagai alat Dewa Wisnu dengan lambang atau kekuatan raja. Hingga saat ini, motif batik Sawat masih sering digunakan oleh pasangan pengantin untuk pernikahan. Folosofinya dianggap mampu melindungi kehidupan para pemakainya. Kedua, ornamen yang terkait dengan langit seperti elang, burung, dan awan mega. Ketiga, ornamen yang terkait dengan laut atau air, seperti ular, ikan, dan katak. Motif ini menyangkut pemahaman tentang triloka atau tribawana, ajaran tentang keberadaan tiga dunia, dunia tengah di mana orang hidup, dunia para dewa dan orang suci, dan dunia bawah di mana orang berjalan di jalan mereka yang tidak benar atau penuh kemarahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *